Industri informasi, teknologi, dan komunikasi (ICT) sangat berperan dalam persaingan dunia global yang semakin ketat. Negara yang tertinggal dalam hal perkembangan dan penerapan ICT biasanya akan sulit bersaing. Dalam model ekonomi Solow, kemajuan teknologi dapat menjelaskan terjadinya peningkatan standar kehidupan masyarakat.
Di Indonesia, industri ICT mulai tumbuh seiring membaiknya perekonomian karena mengalirnya investasi asing. Pemerintah telah menetapkan target investasi sebesar 6,5% guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.
Aliran investasi asing di Indonesia dapat terlihat dari banyaknya pembangunan pabrik, yang nilainya diperkirakan mencapai 10% dari GDP. Sehingga, pertumbuhan ekonomi Indonesia diestimasi menjadi yang tertinggi diantara negara Asia Tenggara lainnya.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia itulah yang membuat lembaga riset International Data Corporation (IDC) berani mengestimasi belanja teknologi informasi tahun ini dapat mencapai US$ 12,9 miliar, atau naik 18% dari tahun lalu. Bahkan bisa mencapai 20% per tahun.
Pemicu naiknya belanja TI tahun ini adalah karena investor dari pasar global berniat mengalihkan investasinya ke negara berkembang yang dinilai berpeluang besar untuk terus tumbuh. Diperkirakan dalam beberapa waktu mendatang, akan banyak pabrik baru yang membutuhkan solusi konektivitas seperti mobile broadband dan cloud computing.Dengan demikian, hal tersebut secara tidak langsung berakibat ke pertumbuhan ICT.
Diperkirakan, belanja IT Indonesia akan digunakan untuk membeli client systems (31,8%), IT services (25,1%), paket software (10,6%), storage (7,5%), peripheral dan aplikasi tambahan (7%), sistem server (8,8%), peralatan telekomunikasi (3,4%), dan lain-lain (5,8% ).
Kompetisi yang semakin ketat antar perusahaan juga menyebabkan tumbuhnya industri ICT di Indonesia. Saat ini telah banyak perusahaan yang menerapkan komputerisasi di segala aspek bisnisnya dan fokus ke layanan pelanggan berbasis value added service. Hasil riset IDC mengatakan, sekitar 50% perusahaan di Indonesia akan mengadopsi layanan cloud dalam jangka waktu 12-24 bulan mendatang karena mereka mulai menyadari pentingnya efisiensi biaya operasional.
PT. Telekomunikasi Indonesia (Telkom) tahun ini pun kian meningkatkan agresivitasnya. Sebagai pionir di industri ICT berbasis TIME, Telkom sedang berusaha mempercepat pembangunan jaringan serat optik ke wilayah perkotaan dan membangun akses wireless fidelity (WiFi) secara nasional. Diharapkan upaya tersebut bisa meningkatkan pendapatan bisnis broadband dengan target pertumbuhan sekitar 20% di tahun ini.
Sektor teknologi informasi dan komunikasi (TIK) atau information and communication technology (ICT) diyakini mampu memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring mengatakan, ICT adalah industri kreatif tanpa batas.
ICT diharapkan bisa menjadi pilar pembangunan, menyerap tenaga kerja baru, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan sebagai alat pemersatu bangsa.
Namun, kata dia, saat ini, masih terdapat beberapa masalah utama yang masih menjadi kendala di sektor ICT yang di antaranya adalah masih tingginya angka kesenjangan digital desain di daerah-daerah, infrastruktur ICT yang masih sangat sedikit, serta layanan kepada masyarakat masih kurang.
"Upaya pembangunan infrastruktur masih sedikit termasuk informasi yang edukatif khususnya dalam dunia penyiaran televisi,” kata Tifatul di sela-sela acara Indonesia Broadband Economy Forum 2011 tentang Navigating ICT For The Economy, di Jakarta, Rabu (21/9/2011).
Tifatul mengatakan, pada 2014 mendatang, pihaknya menargetkan, Indonesia bisa menjadi negara yang informatif untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
“Misi pemerintah di 2014 adalah, bisa membangun infrastruktur ICT yang memadai, meningkatkan mutu sumber daya manusia, serta meningkatkan efisiensi utilisasi ICT,” jelasnya.
Selain itu, kata dia, pemerintah juga menargetkan pada 2012, Indonesia connnected bisa dicanangkan, Indonesia informatif bisa terealisasi 2014, Indonesia broadband 2015, dan Indonesia digital 2016.
ICT, kata dia, membutuhkan dukungan pemerintah. Salah satunya adalah ICT fund. “ICT efek dominonya kuat. Harus didukung pebisnis dan kalangan pemerintah, serta kampus. Pemerintah regulator, pebisnis operator, kampus inkubator. Jangan mengunci teknologi, jadi yang penting spec nya bisa menjalankann fungsinya. jangan dibatasi. Dia akan berkembang begitu cepat,” tegasnya.
Tifatul menjelaskan, dunia telah mengalami silent revolution, yakni ketika komunikasi beralih menggunakan jalur lebar atau pita lebar (broadband).
Temuan riset dari Bank Dunia (World Bank) 2009 adalah penetrasi broadband sebesar 10 persen bisa meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) 1,38 persen. Selain itu, investasi sebesar satu persen di sektor ICT bisa memacu pertumbuhan ekonomi suatu negara hingga sekira tiga sampai lima persen.
Pemerintah, kata Tifatul, berencana untuk membangun proyek Palapa Ring. Proyek itu bisa menyatukan seluruh provinsi di Indonesia. Kemenkominfo sendiri telah menyelesaikan proyek dari Manado ke Kupang. Bahkan, kata dia, kabel fiber optik akan ditanamkan di sepanjang Manado-Ternate-Manokwari pada akhir tahun ini.
“Setelah Palapa Ring, harus dikembangkan smart city atau cyber city sampai ke gang-gang,” katanya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah mengatakan, setiap terjadi penetrasi broadband sekira 1-10 persen, maka PDB suatu negara bisa bertumbuh 0,0025-1,5 persen.
“Kita punya persoalan banyak UKM dan logistik. Itu yang sulit. Jadi kalau usaha jual pakaian online, pengirimannya sulit karena logistiknya buruk,” kata Firmanzah.
Menurutnya, investasi di sektor ICT bisa mendorong terjadinya peralihan perekonomian Indonesia, yakni dari negara pengekspor bahan mentah menjadi negara yang berekonomi kreatif.
“Saat ini, ekspor bahan baku mentah kita hanya kalah dari Brasil yang 51 persen. Kita masih 48-49 persen,” ucapnya.
Masa depan industri kreatif ICT di Indonesia masih berpeluang untuk terus berkembang dan memberikan kontribusinya dalam pembangunan. Sebagian besar pengembang lokal yang berasal dari perguruan tinggi maupun startup dapat memberi sumbangsihnya untuk negeri.
Salah satu pusat Research & Development yang merupakan bagian dari PT. Telkom Indonesia, Bandung Digital Valley (BDV) menjadi wadah bagi para pengembang aplikasi untuk dibina, diberikan pelatihan maupun pengarahan. Sehingga, nantinya mereka memiliki kesempatan untuk mengkomersialisasikan karyanya.
"Kami mendukung pengembangan aplikasi dan konten IME (Information, Media, Edutainment). Industri kreatif ini memiliki potensi yang baik ke depan. Sehingga, diharapkan inovasi yang diciptakan tidak hanya dijual di domestik, tetapi juga di luar negeri," ujar Joddy Hernady, Senior General Manager R&D Center Telkom Indonesia di Bandung, Kamis (13/9/2012).
Ia mengatakan, BDV melakukan advokasi teknis dan bisnis untuk pengembangan solusi konten dan aplikasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
"Kami menyediakan ekosistem yang excellence, akses kerja, internet, pengajar untuk menjadikan mereka pelaku industri kreatif. Kami membangun developer handal," terangnya.
Mengenai lokasi BDV di Bandung, hal ini dirasa tepat karena banyak institusi pendidikan bidang IT di kota kembang ini. BDV juga berperan dalam menghubungkan developer dengan major capital serta menyediakan fasilitas dan mendukung komersialisasi terkait karya yang telah diciptakan.
"Di samping kami bangun developer handal, juga kami sediakan pendanaan. Dana BDV berasal dari Telkom dan untuk membantu para developer, kami beri advokasi, sehingga diharapkan nanti dapat menjadi produk yang komersial," tuturnya.
Lebih lanjut Joddy mengatakan, BDV menarget dalam 3 tahun, mampu merangkul 600 developer, 60 perusahaan lokal, 45 universitas. Selain itu, melahirkan 600 aplikasi Software as a Services (SaaS), 5000 aplikasi mobile dan 500 aplikasi enterprise.
BDV mencatat saat ini telah memiliki 602 members, 48 startup companies dan 18 tenants. Guna mencapai target, mereka melakukan berbagai event seperti roadshow, seminar, competition, awardserta forum.
Images: eeuroafrica-ict.org
